best practice matematika
Laporan Tugas Akhir
Diajukan untuk memenuhi salah satu Tagihan dalam Program
Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Zonasi Tahun 2019
Disusun oleh
ASWAN MAHMUDDIN
SMA GOWA RAYA
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
2019
Karya tulis dalam bentuk best practice berjudul “Penerapan Problem Based Learning (PBL) Berbasis HOTS pada Kegiatan Menyelesaikan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi dengan metodegabungan substitusi dan eliminasi Siswa Kelas X MIA SMA Gowa Raya Kabupaten Gowa.
Nama : Aswan Mahmuddin, S.Pd
Asal Sekolah : SMA Gowa Raya
Telah disetujui dan disahkan pada / oleh:
Hari : Kamis
Tanggal : 24 Oktober 2019
Sungguminasa, 24 Oktober 2019
Kepala SMA Gowa Raya
DRS. ABD. Razak, M.Si
NIP 19620221 198710 1 001
|
Nama : Aswan Mahmuddin, S.Pd
Tempat / Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 25 Desember 1988
Jenis Kelamin : Laki – Laki
Agama : Islam
Nama Orang Tua : Mahmuddin dan Hamidah
Pendidikan Terakhir : S – 1 Pendidikan Matematika
Sungguminasa, 24 Oktober 2019
Penulis,
Aswan Mahmuddin, S.Pd
|
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan best practice dengan judul “Penerapan Problem Based Learning (PBL) Berbasis HOTS Pada Kegiatan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi Siswa Kelas X SMA Gowa Raya Kabupaten Gowa.
Dalam penyusunan best practiceini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada yang terhormat:
1. Kepala Dinas Pendidikan provinsi Sulawesi Selatan
2. Kepala SMA Gowa Raya yang telah memberi ijin, kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk mengikuti Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Zonasi Tahun 2019
3. Kepada Bapak ABD. Qadri , S.Pd.,M.Pd yang memberi bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan best practice ini.
4. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan berupa apapun dalam menyelesaikan best practice ini.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan karyaini.
Sungguminasa, 24 Oktober 2019
Penulis
|
Halaman
Lembar Pengesahan ................................................................................. i
Biodata Penulis .......................................................................................... ii
Kata Pengantar.......................................................................................... iii
Daftar Isi..................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah....................................................... 1
B. Jenis Kegiatan ..................................................................... 7
C. Manfaat Penelitian.............................................................. 7
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Tujuan dan Sasaran ............................................................. 8
B. Bahan/Materi Kegiatan........................................................ 8
C. Cara Melaksanakan Kegiatan……………………………… 8
BAB III HASIL KEGIATAN
A. Hasil .................................................................................. 13
B. Masalah yang Dihadapi ....................................................... 16
C. Cara Mengatasi Masalah ..................................................... 16
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan .............................................................................. 17
B. Rekomendasi ....................................................................... 17
|
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran, selanjutnya akan disingkat dengan Program PKP, merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Program ini merupakan bagian dari program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang diamanatkan oleh Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Pendidikan hendaknya mampu menghasilkan individu yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
|
Pembelajaran matematika di sekolah juga dianggap masih memiliki beberapa kelemahan. Menurut Lerner (1981), ada beberapa karaketristik anak berkesulitan belajar matemtika, yaitu :”adanya gangguan dalam hubungan keruangan, abnormalitas persepsi visiual, kesulitan mengenal dan memahami simbol, gangguan penghayatan tubuh, kesulitan dalam bahasa dan membaca, scor performance IQ jauh lebih rendah dari pada skor verbal IQ. Pandangan yang sama juga terjadi pada siswa SMA Gowa Raya. Beberapa siswa mengikuti pembelajaran matematika setengah hati dan hanya sebagai syarat formal kelulusan sehingga berakibat gagalnya siswa dalam belajar matematika. Kegagalan siswa tersebut ditandai antara lain minimnya prestasi siswa dan kurangnya produk atau hasil karya siswa dari proses pembelajaran matematika.
Pada Program PKB terdahulu yang dikembangkan oleh Ditjen GTK sebelumnya, yang didasarkan pada hasil Uji Kompetensi Guru, berfokus pada peningkatan kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogi dan profesional. Sedangkan Program PKP lebih berfokus pada upaya mencerdaskan siswa melalui pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penyelenggaraan program PKP Berbasis Zonasi didesain dengan grand desain seperti pada gambar berikuti ini.
Hasil UN tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa-siswi masih lemah dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) seperti menalar, menganalisa, dan mengevaluasi. Oleh karena itu siswa harus dibiasakan dengan soal-soal dan pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill) agar terdorong kemampuan berpikir kritisnya.
Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa adalah menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP).
Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG). Guru mata pelajaran (MGMP) SMA, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.
Penyiapan Program PKP yang mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi, dilaksanakan oleh Ditjen GTK mulai dari penyusunan Pedoman Program PKP Berbasis Zonasi, Petunjuk Teknis Program PKB Berbasis Zonasi, Buku Pegangan Pembekalan Narasumber Nasional / Instruktur / Guru Inti Program PKP Berbasis Zonasi, Unit Pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), soal tes awal dan tesakhir serta instrument penjaminan mutu.
Pelaksanaan Program PKP Berbasis Zonasi dirancang dalam bentuk pelatihan berjenjang mulai dari Pembekalan Narasumber Nasional, Instruktur Nasional, dan Guru Inti yang masing – masing memiliki pola 60 Jam Pelajaran (JP), dan Pelatihan Guru Sasaran dengan pola 80 JP (dengan pola In-On-In).
Kurikulum 2013 masuk materi kelas X semester ganjil, dalam materi Menyelesaikan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi hanya dijadikan sebagai materi tambahan yaitu sebagai teks Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi pembanding. Mengingat keterbatasan waktu serta luasnya materi yang harus dikuasai, tahun ajaran 2014/ 2015, guru tidak mengajarkan cerpen secara khusus.
Akibatnya, proses pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam menyimpulkan tidak maksimal. Selama proses pembelajaran banyak siswa yang terlihat dan mengaku mengalami kesulitan belajar. Kesulitan ini antara lain disebabkan siswa (a) tidak mempunyai referensi tentang cerpen yang bagus itu seperti apa, (b) kurang menyukai cerpen dan kurang berminat membaca apalagi menyimpulkan, dan (c) merasa tidak memiliki bakat dalam berbicara.
Dari hasil analisis hasil belajar (berupa karya sastra) yang ditulis oleh siswa pada pembelajaran tahun-tahun sebelumnya diitemukan fakta-fakta berikut (a) sebagian besar cerpen yang ditulis bertema percintaan, (b) kurang sekali penggunaan bahasa kiasan/ figuratif language-nya, dan (c) kosa kata yang digunakan kurang bervariasi. Akibatnya, sebagian besar puisi karya siswa hanya berupa tulisan curahan hati (curhat) yang membosankan dan kurang memiliki nilai sastra. Dilihat dari nilai akhir (NA) kompetensi pengetahuan (KD 3.3) hasil belajarnya masih rendah. Rata-rata hasil belajar untuk 1 kelas yang dipegang penulis adalah 68 dari KKM sebesar 70. Dengan demikian beberapa siswa masih harus mengikuti kegiiatan remedial.
Penulis kemudian melakukan wawancara dengan beberapa siswa dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah penulis lakukan dan menemukan beberapa penyebab keadaan tersebut terjadi karena guru
(a) kurang memberikan contoh soal yang bagus. Guru hanya menggunakan contoh SPLTV yang tersedia dalam buku teks sehingga pengalaman estetis siswa dalam membaca puisi yang bagus sangat kurang,
(b) Hanya mengajarkan SPLTV baru sebagai materi ‘titipan’, dan lebih memfokuskan pada materi teks lainnya sesuai dengan tuntutan KD dalam struktur kurikulum,
(c) Kurang menyediakan aktivitas belajar yang memungkinkan siswa untuk secara aktif dan mandiri memperkaya penguasaan kosa kata, dan
(d) Tidak menyediakan aktivitas dan sarana publikasi karya yang memadai.
Akibat dari permasalahan tersebut minat siswa rendah untuk belajar Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi dan akhirnya hasil belajarnya pun rendah.
Bertolak dari uraian di atas, penulis bermaksud melaporkan hasil pembelajaran terbaik ini dalam laporan bets practice dengan judul, Penerapan Problem Based Learning (PBL) Berbasis Hots Pada Kegiatan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi Siswa Kelas X SMA Gowa Raya Kabupaten Gowa” Bahkan, penulis berkeyakinan pembelajaran yang dilakukan, penulis merupakan pembelajaran menyimpulkan unsur-unsur intrinsik. Oleh karena itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut sebagai kegiatan best practice berjudul”Penerapan Problem Based Learning (PBL) Berbasis Hots Pada Kegiatan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi Siswa Kelas X SMA Gowa Raya Kabupaten Gowa”
B. Jenis Kegiatan
Program PKP Berbasis Zonasi dilaksanakan dengan pola pembelajaran sebagai berikut.
Kegiatan yang dilaporkan dalam best pracitice ini adalah kegiatan pembelajaran menyimpulkan unsur-unsur pembangun karya matematika berdasarkan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi di kelas X.
C. Manfaat Kegiatan
1. Membiasakan guru untuk membuat pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaiannya.
2. Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga dapat meningkatkan kompetensinya.
3. Memberikan acuan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervise akademik.
4. Memberikan acuan kepada pengawas sekolah dalam pelaksanaan supervise akademik dan manajerial.
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Tujuan dan Sasaran
Tujuan penulisan praktik baik ini adalah untuk memprmudah siswa dalam Menyelesaikan Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi dengan metode gabungan substitusi dan eliminasi melalui tayangan video. Adapun sasaran siswa kelas X SMA Gowa Raya Kabupaten Gowa sebanyak 6 orang
B. Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran ini adalah materi
kelas X dengan judul Sistem Persamaan Liniear Tiga Variabel merupakan pembelajaran KD Matematika berikut ini.
Matematika
| ||
KD 3.3
|
Menyusun sistem persamaan linear tiga variabel dari masalah kontekstual
| |
C. Cara Melaksanakan Kegiatan
Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah menerapkan pembelajaran tematik terpadu dengan model pembelajaran problem based learning (PBL).
Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik baik yang telah dilakukan penulis.
1. Pemetaan KD
|
2. Analisis Target Kompetensi
Hasil analisis target kompetensinya sebagai berikut.
3. Perumusan Indikator Pencapaian Kompetesi
4. Pemilihan Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dipilih adalah problem based learning (PBL).
5. Pengembangan Desain Pembelajaran
Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan sintak PBL.
Berikut ini adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model PBL.
6. Penyusunan Perangkat Pembelajaran
Berdasarkan hasil kerja 1 higga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan ajar, LKPD, dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.
HASIL KEGIATAN
A. Hasil
Hasil yang dapat diilaporkan dari praktik ini diuraikan sebagai berikut.
1. Proses pembelajaran dilakukan dengan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi. Siswa menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai PKP megharuskan siswa aktif selama proses pembelajaran.
2.
|
3. Penerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Siswa cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana siswa dapat menyelesikan soal yang disajikan; kurang peduli pada proses berpikir siswa. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasa), membuat siswa cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh siswa adalah apa yang diajarkan oleh guru. Berbeda kondisinya dengan penerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Dalam pembelajaran ini pemahaman siswa tentang unsur pembangun karya sastra, perubahan sosial budaya, dan cara mahluk hidup menyesuaikan diri benar-benar dibangun oleh siswa melalui pengamatan dan diskusi yang menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis.
4. Penerapan model pembelajaran penerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi(Higher Order Thinking Skills/HOTS) yang diterapkan dengan menyajikan teks tulis dan video berisi permasalahan kontekstual mampu mendorong siswa merumuskan pemecahan masalah. Sebelum menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku guru dan buku siswa. Meskipun permasalahan yang disajikan dalam buku teks kadang kala kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, tetap saja penulis gunakan. Jenis teks yang digunakan juga hanya pada teks tulis dari buku teks. Dengan menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), siswa tak hanya belajar dari teks tulis, tetapi juga dari video serta diberi kesempatan terbuka untuk mencari data, materi dari sumber lainnya.
B. Masalah yang Dihadapi
Masalah yang dihadapi terutama adalah belum terbiasanya siswa belajar degan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu mengguakan metode ceramah, siswa pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ceramah.
C. Cara Mengatasi Masalah
Agar siswa yakin bahwa pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi(Higher Order Thinking Skills/HOT) dapat mebuat mereka lebih meguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking Skills/HOTS).
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) karena dapat meingkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.
2. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran tematik dengan model pembelajaran PBL yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.
1.
|
2. Siswa diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar degan cara ini akan membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
3. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana da prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk mendesiminasikan praktik baik ini aka menambah wawasan guru lain tentang pembelajaran HOTS.
Nb. mohon memberi masukan kepada penulis agar dalam penysununan selanjutnya menjadi lebih baik lagi
Comments